17.51
MANUAL PINDAH XP SP2 ke XP SP 3
DKM Al-Hadi SMPN 1 Bogor
Step 1: Klik start menu - pilih Run, ketik regedit dan tekan ENTER
Step 2: Klik "HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Control\Windows" Klik di windowsnya
Step 3: Klik kanan di CSDVersion dan pilih modify binary "CSDVersion" dari "0x00000200" (SP2) jadi "0x00000300" (SP3)
Cukup ubah 02 jadi 03
Step 4: Kalo udah jadi 0x00000300 (JANGAN SAMPE SALAH)Close registry editor
Step 5: Restart
Step 6: Start 'n Enjoy:)
Step 2: Klik "HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Control\Windows" Klik di windowsnya
Step 3: Klik kanan di CSDVersion dan pilih modify binary "CSDVersion" dari "0x00000200" (SP2) jadi "0x00000300" (SP3)
Cukup ubah 02 jadi 03
Step 4: Kalo udah jadi 0x00000300 (JANGAN SAMPE SALAH)Close registry editor
Step 5: Restart
Step 6: Start 'n Enjoy:)
17.30
RAUDHAH DALAM SEJARAH
Kalau kita telaah beberapa buku tentang Umrah dan Haji, buku pintar haji serta
buku-buku tentang sejarah kota Madinah, maka diperoleh gambaran kondisi Masjid
Nabawi khususnya dan kota Madinah umumnya.
Masjid Nabawi sendiri adalah masjid kedua dibangun Nabi, masjid pertama dibangun
Nabi saw adalah Masjid Qubah yang terletak antara Makkah dan Madinah. Masjid
Qubah dibangun ketika Nabi saw menunggu Ali bin Abi Thalib yang hijrah
belakangan.
Lokasi Masjid Nabawi yang asli ditandai dengan tiang-tiang yang berbeda dengan
tiang-tiang sebagian besar Masjid Nabawi saat ini, tiang-tiang ini terkesan antik dan
berbeda dengan umumnya tiang-tiang masjid Nabawi yang ber-arsitektur modern.
Masjid Nabawi dan halamannya saat ini lebih kurang 8,2 HA dan mampu
menampung 800.000 jamaah, total luas masjid saat ini diyakini merupakan luas kota
kecuali Masjidil Haram dengan pahala 100.000 kali. Sehingga jamaah haji umumnya
melakukan program Arba’in yakni shalat 40 kali di Masjid Nabawi (shalat 5 waktu
selama 8 hari), jika kita ambil hikmahnya maka Arba’in sebetulnya mendidik jamaah
haji untuk selalu melakukan shalat 5 waktu dimasjid secara berjamaah. Jika kita
bekerja disiang hari, maka harus disempatkan untuk shalat Subuh dan Isya di
masjid.
Barangsiapa melaksanakan shalat Isya’ dengan berjamaah, maka laksana ia
beribadah setengah malam, dan barangsiapa melaksanakan shalat Isya’ dan Fajar
dengan berjamaah, maka laksana ia beribadah semalam suntuk (HR Muslim).
Seberat-berat shalat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya’ dan Fajar.
Seandainya mereka mengetahui pahala keduanya maka mereka akan
mendatanginya walaupun harus merangkak (HR Mutafaq ’alaih)
Kamar Nabi saw dengan istrinya Siti Aisyah terletak disamping Masjid, sehingga
ketika Nabi saw I’tikaf (bermalam dimasjid) beliau cukup menjulurkan kepalanya
dipintu kamar untuk disisirkan rambutnya oleh Siti Aisyah. Lokasi antara kamar dan
mimbar inilah yang dikenal dengan Raudhah atau Raudhatul Jannah (Taman Syurga)
dengan luas (22 x 15) m2, dimana berdo’a disini akan dikabulkan oleh Allah swt.
Ketika Nabi saw meninggal, beliau dikuburkan didalam kamarnya dan Siti Aisyah
tetap tinggal dikamar yang sama, kemudian ketika Abu Bakar ra mendekati ajal
beliau minta izin kepada Siti Aisyah agar dapat dikuburkan disamping sahabat yang
paling dicintainya dan Aisyah mengizinkannya. Seperti diketahui Abu Bakar adalah
ayah dari Siti Aisyah. Kemudian ketika Umar bin Khaththab mendekati ajal beliau
juga minta izin Siti Aisyah untuk dikuburkan disamping sahabatnya, padahal Siti
Aisyah sudah berencana untuk dikuburkan disamping suami dan ayah yang sangat
dicintainya tetapi karena rasa hormatnya kepada Umar bin Khaththab maka Siti
Aisyah juga mengizinkannya. Setelah Umar bin Khaththab dikubur disamping Nabi
saw, maka Aisyah tidak pernah membuka aurat dikamarnya karena telah ada orang
asing bukan mahramnya yang telah dikubur dikamarnya. Begitulah mulianya Siti
Aisyah, meskipun laki-laki yang bukan mahramnya telah meninggal tetap saja Siti
Aisyah tidak mau menampakkan auratnya didepan kuburan Umar bin Khaththab.
Posisi kuburan ketiga orang yang sangat dimuliakan oleh umat Islam itu seperti
posisi shalat antara Imam dan Ma’mum, artinya Abu Bakar menjadi ma’mum-nya
Nabi saw, kemudian Umar bin Khaththab menjadi ma’mum-nya Abu Bakar.
Kuburan pada awalnya berlokasi diluar masjid, tetapi ketika ada usaha pencurian
terhadap kuburan Nabi saw maka dimasukkan kedalam masjid. Seorang munafik
bertempat tinggal disekitar Masjid Nabawi, setiap hari dia menziarahi makam Baqi’
(makam para syuhada Uhud) yang tidak jauh dari Masjid Nabawi. Suatu malam Wali
(Gubernur) Madinah bermimpi bahwa seseorang berniat jahat untuk membongkar
kuburan Nabi saw, kemudian diselidiki siapakah pelakunya. Akhirnya ditemukan
rumah orang munafik dengan terowongan yang telah digali dan mengarah
kekuburan Nabi saw, ternyata sang munafik melakukan ziarah kekuburan Baqi’
bukan untuk menghormati syuhada Uhud tetapi untuk membuang tanah galian dari
terowongan. Sang munafik akhirnya dihukum mati atas kejahatannya.
Untuk mengamankan dari pencurian, maka kuburan Nabi saw, Abu Bakar dan Umar
bin Khaththab dicor sekelilingnya dengan timah dan kuburan dimasukkan kedalam
masjid. Jika kita mengunjungi Masjid Nabawi saat ini, dibelakang mimbar ada jalan
untuk memberi kesempatan penziarah mengunjungi kuburan Nabi saw dan tidak
dibolehkan shalat diarea ini karena didepan Imam. Posisi kuburan ditandai dengan
kubah hijau diatasnya.
Seperti telah digambarkan sebelumnya bahwa Raudhah atau Raudhatul Jannah
adalah lokasi antara kamar Nabi saw dengan mimbar, lokasi ini area yang mustajab
untuk berdo’a kepada Allah swt, disamping lokasi lain seperti didepan Multazam
(pintu Ka’bah), saat wuquf di Arafah, dll. Area Raudhah ditandai dengan permadani
kombinasi putih dan abu-abu, ini sangat kontras dengan permadani umumnya di
Masjid Nabawi yang berwarna merah.
Area Raudhah seluas (22 x 15) m2 sangat terbatas menampung jamaah, untuk itu
aparat (asykar syari’ah) mengatur sirkulasi jamaah di Raudhah, bagi yang sudah
shalat sunnah dan berdo’a disuruh keluar dan secara berkala pintu masuk Raudhah
dibuka bagi jamaah yang antri diluar. Waktu yang paling memungkinkan untuk
masuk Raudhah adalah saat dibuka jam 2.30 atau pada saat jatah wanita berakhir
jam 10.00 (jamah wanita diberi kesempatan di Raudhah jam 8.00-10.00). Biasanya
jama’ah sudah antri dan ketika pintu dibuka para jama’ah lari sprint 50 m untuk
mendapatkan tempat yang strategis (tidak terganggu dan berdesakan).
Dibutuhkan kesabaran yang tinggi di Raudhah, karena sudah biasa ketika shalat
jamaah lain berdiri didepan kita sehingga tidak bisa ruku’ dan sujud. Duduk
berdempetan, tetapi masih ada saja jamaah lain memaksakan diri untuk minta
duduk. Kepala/bahu dilangkahi atau tertendang, tangan terinjak dan perlu hati-hati
disaat sujud karena sangat berbahaya ketika lehernya terinjak jamaah lain. Cara
paling aman adalah bersama teman, shalat bergantian dan saling menjaga (dengan
menjulurkan tangan) ketika sedang shalat. Kadang-kadang kita saksikan antar
Masjid Nabawi dengan kubah hijau diatasnya, dimana
persis dibawah kubah adalah kuburan Nabi saw
(sumber: photo pribadi haji 2005)
jamaah saling melotot dan emosi, disinilah kesabaran kita diuji, tidak selayaknya
berantem disaat beribadah ditempat yang sangat mulia ini.
Tempat mulia seperti Raudhah ini salah satu saja dari sekian banyak tempat mulia
ditanah suci semisal Masjidil Haram dengan Ka’bah, multazam, hijir isma’il, saat
wuquf di Arafah, dll, sayang sekali ketika kesempatan, keuangan dan kesehatan ada
tetapi tidak dimanfaatkan. Lakukanlah ibadah haji sesegera mungkin, jangan tunda
jika sudah tua karena tidak ada yang menjamin kita hidup hingga tua, jangan tunda
jika mental sudah siap karena tidak ada yang menjamin kita selalu sehat. Ibadah
haji merupakan kesempatan seluas-luasnya untuk bertaubat kepada Allah swt atas
dosa-dosa yang kita perbuat, sehingga sepulang haji (jika mabrur) maka ia bagaikan
seorang bayi yang baru lahir.
Wallahua’lam
Kalau kita telaah beberapa buku tentang Umrah dan Haji, buku pintar haji serta
buku-buku tentang sejarah kota Madinah, maka diperoleh gambaran kondisi Masjid
Nabawi khususnya dan kota Madinah umumnya.
Masjid Nabawi sendiri adalah masjid kedua dibangun Nabi, masjid pertama dibangun
Nabi saw adalah Masjid Qubah yang terletak antara Makkah dan Madinah. Masjid
Qubah dibangun ketika Nabi saw menunggu Ali bin Abi Thalib yang hijrah
belakangan.
Lokasi Masjid Nabawi yang asli ditandai dengan tiang-tiang yang berbeda dengan
tiang-tiang sebagian besar Masjid Nabawi saat ini, tiang-tiang ini terkesan antik dan
berbeda dengan umumnya tiang-tiang masjid Nabawi yang ber-arsitektur modern.
Masjid Nabawi dan halamannya saat ini lebih kurang 8,2 HA dan mampu
menampung 800.000 jamaah, total luas masjid saat ini diyakini merupakan luas kota
Madinah dimasa Nabi saw.
Shalat di Masjid Nabawi memperoleh pahala 1.000 kali dibandingkan masjid lain,kecuali Masjidil Haram dengan pahala 100.000 kali. Sehingga jamaah haji umumnya
melakukan program Arba’in yakni shalat 40 kali di Masjid Nabawi (shalat 5 waktu
selama 8 hari), jika kita ambil hikmahnya maka Arba’in sebetulnya mendidik jamaah
haji untuk selalu melakukan shalat 5 waktu dimasjid secara berjamaah. Jika kita
bekerja disiang hari, maka harus disempatkan untuk shalat Subuh dan Isya di
masjid.
Barangsiapa melaksanakan shalat Isya’ dengan berjamaah, maka laksana ia
beribadah setengah malam, dan barangsiapa melaksanakan shalat Isya’ dan Fajar
dengan berjamaah, maka laksana ia beribadah semalam suntuk (HR Muslim).
Seberat-berat shalat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya’ dan Fajar.
Seandainya mereka mengetahui pahala keduanya maka mereka akan
mendatanginya walaupun harus merangkak (HR Mutafaq ’alaih)
Kamar Nabi saw dengan istrinya Siti Aisyah terletak disamping Masjid, sehingga
ketika Nabi saw I’tikaf (bermalam dimasjid) beliau cukup menjulurkan kepalanya
dipintu kamar untuk disisirkan rambutnya oleh Siti Aisyah. Lokasi antara kamar dan
mimbar inilah yang dikenal dengan Raudhah atau Raudhatul Jannah (Taman Syurga)
dengan luas (22 x 15) m2, dimana berdo’a disini akan dikabulkan oleh Allah swt.
Ketika Nabi saw meninggal, beliau dikuburkan didalam kamarnya dan Siti Aisyah
tetap tinggal dikamar yang sama, kemudian ketika Abu Bakar ra mendekati ajal
beliau minta izin kepada Siti Aisyah agar dapat dikuburkan disamping sahabat yang
paling dicintainya dan Aisyah mengizinkannya. Seperti diketahui Abu Bakar adalah
ayah dari Siti Aisyah. Kemudian ketika Umar bin Khaththab mendekati ajal beliau
juga minta izin Siti Aisyah untuk dikuburkan disamping sahabatnya, padahal Siti
Aisyah sudah berencana untuk dikuburkan disamping suami dan ayah yang sangat
dicintainya tetapi karena rasa hormatnya kepada Umar bin Khaththab maka Siti
Aisyah juga mengizinkannya. Setelah Umar bin Khaththab dikubur disamping Nabi
saw, maka Aisyah tidak pernah membuka aurat dikamarnya karena telah ada orang
asing bukan mahramnya yang telah dikubur dikamarnya. Begitulah mulianya Siti
Aisyah, meskipun laki-laki yang bukan mahramnya telah meninggal tetap saja Siti
Aisyah tidak mau menampakkan auratnya didepan kuburan Umar bin Khaththab.
Posisi kuburan ketiga orang yang sangat dimuliakan oleh umat Islam itu seperti
posisi shalat antara Imam dan Ma’mum, artinya Abu Bakar menjadi ma’mum-nya
Nabi saw, kemudian Umar bin Khaththab menjadi ma’mum-nya Abu Bakar.
Kuburan pada awalnya berlokasi diluar masjid, tetapi ketika ada usaha pencurian
terhadap kuburan Nabi saw maka dimasukkan kedalam masjid. Seorang munafik
bertempat tinggal disekitar Masjid Nabawi, setiap hari dia menziarahi makam Baqi’
(makam para syuhada Uhud) yang tidak jauh dari Masjid Nabawi. Suatu malam Wali
(Gubernur) Madinah bermimpi bahwa seseorang berniat jahat untuk membongkar
kuburan Nabi saw, kemudian diselidiki siapakah pelakunya. Akhirnya ditemukan
rumah orang munafik dengan terowongan yang telah digali dan mengarah
kekuburan Nabi saw, ternyata sang munafik melakukan ziarah kekuburan Baqi’
bukan untuk menghormati syuhada Uhud tetapi untuk membuang tanah galian dari
terowongan. Sang munafik akhirnya dihukum mati atas kejahatannya.
Untuk mengamankan dari pencurian, maka kuburan Nabi saw, Abu Bakar dan Umar
bin Khaththab dicor sekelilingnya dengan timah dan kuburan dimasukkan kedalam
masjid. Jika kita mengunjungi Masjid Nabawi saat ini, dibelakang mimbar ada jalan
untuk memberi kesempatan penziarah mengunjungi kuburan Nabi saw dan tidak
dibolehkan shalat diarea ini karena didepan Imam. Posisi kuburan ditandai dengan
kubah hijau diatasnya.
Seperti telah digambarkan sebelumnya bahwa Raudhah atau Raudhatul Jannah
adalah lokasi antara kamar Nabi saw dengan mimbar, lokasi ini area yang mustajab
untuk berdo’a kepada Allah swt, disamping lokasi lain seperti didepan Multazam
(pintu Ka’bah), saat wuquf di Arafah, dll. Area Raudhah ditandai dengan permadani
kombinasi putih dan abu-abu, ini sangat kontras dengan permadani umumnya di
Masjid Nabawi yang berwarna merah.
Area Raudhah seluas (22 x 15) m2 sangat terbatas menampung jamaah, untuk itu
aparat (asykar syari’ah) mengatur sirkulasi jamaah di Raudhah, bagi yang sudah
shalat sunnah dan berdo’a disuruh keluar dan secara berkala pintu masuk Raudhah
dibuka bagi jamaah yang antri diluar. Waktu yang paling memungkinkan untuk
masuk Raudhah adalah saat dibuka jam 2.30 atau pada saat jatah wanita berakhir
jam 10.00 (jamah wanita diberi kesempatan di Raudhah jam 8.00-10.00). Biasanya
jama’ah sudah antri dan ketika pintu dibuka para jama’ah lari sprint 50 m untuk
mendapatkan tempat yang strategis (tidak terganggu dan berdesakan).
Dibutuhkan kesabaran yang tinggi di Raudhah, karena sudah biasa ketika shalat
jamaah lain berdiri didepan kita sehingga tidak bisa ruku’ dan sujud. Duduk
berdempetan, tetapi masih ada saja jamaah lain memaksakan diri untuk minta
duduk. Kepala/bahu dilangkahi atau tertendang, tangan terinjak dan perlu hati-hati
disaat sujud karena sangat berbahaya ketika lehernya terinjak jamaah lain. Cara
paling aman adalah bersama teman, shalat bergantian dan saling menjaga (dengan
menjulurkan tangan) ketika sedang shalat. Kadang-kadang kita saksikan antar
Masjid Nabawi dengan kubah hijau diatasnya, dimana
persis dibawah kubah adalah kuburan Nabi saw
(sumber: photo pribadi haji 2005)
jamaah saling melotot dan emosi, disinilah kesabaran kita diuji, tidak selayaknya
berantem disaat beribadah ditempat yang sangat mulia ini.
Tempat mulia seperti Raudhah ini salah satu saja dari sekian banyak tempat mulia
ditanah suci semisal Masjidil Haram dengan Ka’bah, multazam, hijir isma’il, saat
wuquf di Arafah, dll, sayang sekali ketika kesempatan, keuangan dan kesehatan ada
tetapi tidak dimanfaatkan. Lakukanlah ibadah haji sesegera mungkin, jangan tunda
jika sudah tua karena tidak ada yang menjamin kita hidup hingga tua, jangan tunda
jika mental sudah siap karena tidak ada yang menjamin kita selalu sehat. Ibadah
haji merupakan kesempatan seluas-luasnya untuk bertaubat kepada Allah swt atas
dosa-dosa yang kita perbuat, sehingga sepulang haji (jika mabrur) maka ia bagaikan
seorang bayi yang baru lahir.
Wallahua’lam
19.22
IMAM HASAN
DKM Al-Hadi SMPN 1 Bogor
Seorang sufi bernama Imam Hasan Al Bashri amat
meyakini janji Allah ini. Alkisah, beliau suatu hari
kedatangan 6 orang tamu. Sebagai seorang muslim,
memuliakan tamu adalah hal yang diperintahkan agama.
Imam menerima tamu dengan wajah sumringah. Semua tamu
yang hadir ia persilahkan masuk dan duduk di kursi
yang tersedia di ruang depan rumah. Usai semua tamu
masuk ke dalam rumah, Imam Hasan pergi ke dapur. Saat
itu, hanya ia dan seorang budaknya yang ada di rumah.
Imam Hasan bertanya kepada budaknya, "Makanan apa yang
ada di rumah ini hingga bisa dihidangkan untuk
tamu-tamuku?" Sang budak, membuka lemari makanan dan
tiada yang ia temui selain sepotong roti saja. Ia
sampaikan kepada Imam Hasan hal tersebut.
Sedikit berkerut kulit dahi Imam terlihat, pertanda
beliau berpikir serius bagaimana cara menghidangkan
sepotong roti itu untuk enam orang tamunya. Sejurus
kemudian, Imam berkata setelah mengambil sikap, "Sudah
begini saja..., bawalah roti itu dan cari orang yang
dapat menerimanya sebagai sedekah! Namun jangan lupa
hidangkan dulu minuman untuk para tamuku!"
Maka pergilah sang budak untuk bersedekah, setelah ia
menyuguhkan minuman kepada para tamu Imam Hasan
terlebih dahulu.
Maka para tamu pun hanya mendapatkan suguhan air putih
dari rumah Imam Hasan. Imam Hasan merasa gak enak hati
kepada para tamunya.Tapi dia yakin, bahwa Allah Swt
akan membalas amalnya minimal 10 kali lipat.
Biduk asa seolah menjumpai tambatannya. Saat Imam
Hasan kedatangan seorang tamu lagi yang datang dengan
membawa sebuah nampan. Imam Hasan bangkit dan bergegas
menghampirinya.
"Assalamu'alaikum, wahai Imam!" seru orang yang baru
saja datang. "Wa'alaikum salam warahmatullah..." Imam
membalas. "Apa yang kau bawa?" imam bertanya kepada
orang tersebut. "Ini imam, aku membawakan 6 potong
roti untuk engkau!" kata orang tersebut dengan senyum
terkembang.
"Mungkin ini bukan untukku!" Imam Hasan menukas.
"Mengapa engkau berkata demikian?" sang tamu bertanya
keheranan. "Kalau benar ini untukku, pasti jumlahnya
sepuluh!" Imam berkata yakin karena ia tahu bahwa
Allah akan memberi 10 roti sebagai balasan dari
sepotong roti yang telah ia sedekahkan.
Sang tamu merasa aneh. Ia coba untuk memanjangkan
leher dan menyapukan pandangan ke dalam rumah Imam
Hasan. Sesudah itu ia mengerti bahwa imam sedang
kedatangan banyak tamu.
Orang itu pun kembali ke rumah. Lalu ia tambahkan lagi
4 potong roti sehingga menjadi 10 jumlahnya. Kemudian
ia angkat nampan yang ia bawa, kemudian ia ayunkan
langkah menuju rumah Imam Hasan Al Bashri.
Sesampainya di rumah imam, sang tamu kembali
mengucapkan salam lalu disambut dan dibalas oleh Imam
Hasan. Beliau lalu membuka penutup nampan, kemudian
berujar, "Nah... inilah yang dijanjikan Allah padaku!"
Allah akan membalas setiap kebaikan yang dilakukan
oleh seorang hamba minimal 10 kali lipat. Bilangan
balasan itu bisa terus berganda dan tumbuh semakin
besar. Tergantung pada keikhlasan sang hamba, dan
takaran rezeki yang Allah berikan kepadanya. Bahkan
bilangan itu suatu saat bisa mencapai 700 kali lipat.
Allah Swt berfirman:
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)
orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah
adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan
tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia
kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha
Mengetahui." (QS. 2:261)
----------------------------------------------------
Di Cipete Jakarta Selatan. Di sebuah sekolah dasar di
sana, seorang pria penjual gorengan bernama Udin
(bukan nama asli) berjualan. Lonceng turun main,
kira-kira akan berbunyi sepuluh menit lagi. Ia tengah
memotong beberapa singkong untuk digoreng.
Singkong seperti kita tahu, berbentuk tabung dan
berkerucut pada ujungnya. Biasanya sebuah singkong
akan dipotong lima bagian. 4 bagian digoreng untuk
dijual, sementara bagian ujung atau pentilnya
disisihkan untuk dibuang. Hari itu, Udin menggoreng
kira-kira 5 buah singkong, dan pentil singkong yang
tersisa pun berjumlah 5 karenanya.
Lonceng istirahat berbunyi, para siswa pun berhamburan
ke luar kelas untuk jajan dan istirahat. Seorang anak
kurus sambil menggigit jari berdiri di ujung gerobak
Udin. Anak ini tidak membeli gorengan seperti siswa
lainnya, juga tidak berbicara sepatah katapun.
Naluri Udin berkata bahwa anak ini tidak punya uang
untuk jajan. Hati kecil menyuruhnya agar 5 pentil
singkong yang ada diberikan saja kepada anak itu. Maka
diambillah beberapa pentil itu. Ia masukkan ke dalam
adonan tepung, kemudian digorenglah. Setelah matang,
Udin menaruhnya di atas kertas lalu disodorkannya
kepada anak itu.
Si anak senang bukan main. Senyumnya mengembang. Udin
turut bahagia melihatnya. Belakangan, Udin tahu bahwa
anak tersebut adalah seorang yatim yang baru saja
kehilangan bapak.
Kejadian pagi itu terus berulang. Udin memberikan
beberapa pentil singkongnya kepada anak yatim itu.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun
hingga anak itu lulus dari Sekolah Dasar. Udin tidak
merasa berat, sebab apa yang ia berikan kepada anak
yatim itu, tiada lain adalah barang yang tiada
berharga bagi siapapun. Dalam pengalamannya berjualan,
tidak ada seorang pun yang mencari pentil singkong
untuk dibeli. Bahkan bila dijual sekalipun dalam
jumlah banyak, pastilah tidak akan laku.
Udin tak berkeberatan memberikan pentil singkongnya
kepada anak itu. Bahkan untuk setiap hari!
Allah Swt akan membalas kebaikan seorang hamba bila ia
membantu saudaranya bahkan hingga 700 kali lipat!
Lebih dari 30 tahun berselang setelah anak yatim itu
lulus. Saat itu, Udin masih mengerjakan rutinitasnya
setiap hari; yaitu berjualan gorengan di sekolah dasar
yang sama. Maka berhentilah sebuah mobil mewah nan
mengkilap tepat di depan gerobak Udin.
Seorang pemuda tampan turun dari mobil. Ia mengenakan
setelan dan dasi yang bermerk. Rambutnya di sisir rapi
dan mengkilat ditimpa sinar matahari.
Melihat calon pembeli dengan mobil bagus, Udin sigap
membuka pembicaraan, "Mau beli gorengan, Den...?!"
Pemuda itu tersenyum dan berkata, "Masa akang lupa
sama saya?" Pertanyaan itu membuat Udin berpikir
singkat, namun ia tidak menemukan jawaban. Udin lalu
bertanya polos, "Memangnya..., Aden ini siapa ya?"
Masih tersenyum, pemuda itu mengatakan, "Saya ini
adalah anak pentil singkong, Kang!" Mendengar itu,
Udin berucap tasbih. Rasa gembira terbit di hatinya
melihat kesuksesan anak ini. Anak pentil singkong yang
dulu kerap berdiri di pinggir gerobaknya.
"Masya Allah.... sudah sukses sekarang ya, Den?!"
Udin bertanya sekali lagi. "Alhamdulillah, Kang!"
jawab si Aden.
Udin lalu menggamit lengan si Aden, diajaknya masuk ke
balik gerobak. Udin menyorongkan sebuah kursi kecil
untuk duduk. Maka duduklah pemuda itu, sementara Udin
meneruskan pekerjaannya.... menggoreng singkong, tempe
dan lain-lain.
Sambil Udin bekerja, pembicaraan mengenai kenangan
lama terulang kembali. Keduanya merajut rasa syukur
kepada Allah Swt Yang telah melimpahkan anugerah tiada
terkira. Pembicaraan tersebut terus berlanjut hingga
berujung pada sebuah kalimat yang diucapkan sang
pemuda.
"Akang... saya ke sini mau berterima kasih!" kata si
pemuda. "Atas apa, Den?!" jawab Udin. "Berterima kasih
atas kebaikan kang Udin kepada saya. Dulu kalau gak
dikasih pentil singkong sama Akang, saya gak bakal
bisa belajar dengan tenang. Kalau belajar gak tenang,
saya gak bakal pintar. Kalau gak pintar, saya gak
bakal bisa lulus sekolah dan sukses seperti
sekarang.... saya ke sini mau berterima kasih ke kang
Udin!" kalimat yang baru diucapkan oleh pemuda begitu
tersusun dan membanggakan hati Udin. Namun Udin masih
berkelit sambil berujar, "Den... sudah gak usah
dipikirkan. Apa yang saya kasih ke Aden berupa pentil
singkong itu kan gak berharga! Ngapain pake terima
kasih segala. Lagian, kalo saya jual gak bakal ada
yang mau...!" Udin mencoba merendah dan menolak
pamrih.
Pemuda masih mengejar dengan satu pertanyaan lagi, dan
ini membuat Udin menjadi bergidik. "Akang..., saya dan
istri berniat haji tahun ini. Saya ingin Kang Udin dan
istri mau menemani kami. Mau kan, Kang?"
Gemuruh rasa terjadi di dada Udin. Tidak pernah
terbayang baginya akan ada seorang hamba Allah yang
mengajaknya untuk menunaikan rukun Islam kelima. Udin
pun mengiyakan, dan pemuda itu pun pergi meninggalkan
Udin.
Udin dan istrinya berangkat haji. Seluruh biaya dan
uang jajan keduanya ditanggung oleh si pemuda.
Barangkali lebih dari Rp 60 juta yang dibayarkan
olehnya. Udin dan istri lalu berangkat ke Baitullah,
menunaikan semua ritual dan kewajiban dalam ibadah
haji. Hingga ia dan istri kembali ke tanah air lagi
dengan selamat.
Sesampainya di tanah air, banyak kerabat, saudara dan
tetangga datang bersilaturahmi. Udin membagikan
oleh-oleh berupa air zamzam, kurma dan banyak lagi.
Banyak orang senang menerima hadiah tersebut. Mereka
pun banyak menanyakan pengalaman Udin dan istri selama
berhaji.
Udin menjawab semua pertanyaan orang yang datang
sebisanya. Hingga saat ada seseorang yang bertanya
tentang bagaimana caranya kang Udin dapat berhaji
bersama istri padahal usahanya hanya sekedar menjual
gorengan.
Rupanya... banyak yang belum tahu dengan cara apa Udin
berangkat haji. Dan memang, ia merahasiakan hal itu
selama ini. Udin pun menjawab seadanya, "Dulu..., saya
sedekah pentil singkong kepada seorang anak yatim, eh
gak taunya dengan sedekah itu saya dan istri berangkat
haji. Kalo tahu begini, coba dulu saya sedekah
singkong beneran sama tuh anak...!"
Udin mencoba berkelakar dengan jawabannya, dan hal itu
membuat hadirin tertawa terbahak mendengarnya. Dalam
hati, Udin bersyukur kepada Allah Swt Yang Sungguh
menepati janji kepada dirinya. Sungguh Allah Swt Maha
Kuasa untuk membalas amal seorang hamba, bahkan hingga
700 kali lipat atau lebih dari itu.
-AI-
meyakini janji Allah ini. Alkisah, beliau suatu hari
kedatangan 6 orang tamu. Sebagai seorang muslim,
memuliakan tamu adalah hal yang diperintahkan agama.
Imam menerima tamu dengan wajah sumringah. Semua tamu
yang hadir ia persilahkan masuk dan duduk di kursi
yang tersedia di ruang depan rumah. Usai semua tamu
masuk ke dalam rumah, Imam Hasan pergi ke dapur. Saat
itu, hanya ia dan seorang budaknya yang ada di rumah.
Imam Hasan bertanya kepada budaknya, "Makanan apa yang
ada di rumah ini hingga bisa dihidangkan untuk
tamu-tamuku?" Sang budak, membuka lemari makanan dan
tiada yang ia temui selain sepotong roti saja. Ia
sampaikan kepada Imam Hasan hal tersebut.
Sedikit berkerut kulit dahi Imam terlihat, pertanda
beliau berpikir serius bagaimana cara menghidangkan
sepotong roti itu untuk enam orang tamunya. Sejurus
kemudian, Imam berkata setelah mengambil sikap, "Sudah
begini saja..., bawalah roti itu dan cari orang yang
dapat menerimanya sebagai sedekah! Namun jangan lupa
hidangkan dulu minuman untuk para tamuku!"
Maka pergilah sang budak untuk bersedekah, setelah ia
menyuguhkan minuman kepada para tamu Imam Hasan
terlebih dahulu.
Maka para tamu pun hanya mendapatkan suguhan air putih
dari rumah Imam Hasan. Imam Hasan merasa gak enak hati
kepada para tamunya.Tapi dia yakin, bahwa Allah Swt
akan membalas amalnya minimal 10 kali lipat.
Biduk asa seolah menjumpai tambatannya. Saat Imam
Hasan kedatangan seorang tamu lagi yang datang dengan
membawa sebuah nampan. Imam Hasan bangkit dan bergegas
menghampirinya.
"Assalamu'alaikum, wahai Imam!" seru orang yang baru
saja datang. "Wa'alaikum salam warahmatullah..." Imam
membalas. "Apa yang kau bawa?" imam bertanya kepada
orang tersebut. "Ini imam, aku membawakan 6 potong
roti untuk engkau!" kata orang tersebut dengan senyum
terkembang.
"Mungkin ini bukan untukku!" Imam Hasan menukas.
"Mengapa engkau berkata demikian?" sang tamu bertanya
keheranan. "Kalau benar ini untukku, pasti jumlahnya
sepuluh!" Imam berkata yakin karena ia tahu bahwa
Allah akan memberi 10 roti sebagai balasan dari
sepotong roti yang telah ia sedekahkan.
Sang tamu merasa aneh. Ia coba untuk memanjangkan
leher dan menyapukan pandangan ke dalam rumah Imam
Hasan. Sesudah itu ia mengerti bahwa imam sedang
kedatangan banyak tamu.
Orang itu pun kembali ke rumah. Lalu ia tambahkan lagi
4 potong roti sehingga menjadi 10 jumlahnya. Kemudian
ia angkat nampan yang ia bawa, kemudian ia ayunkan
langkah menuju rumah Imam Hasan Al Bashri.
Sesampainya di rumah imam, sang tamu kembali
mengucapkan salam lalu disambut dan dibalas oleh Imam
Hasan. Beliau lalu membuka penutup nampan, kemudian
berujar, "Nah... inilah yang dijanjikan Allah padaku!"
Allah akan membalas setiap kebaikan yang dilakukan
oleh seorang hamba minimal 10 kali lipat. Bilangan
balasan itu bisa terus berganda dan tumbuh semakin
besar. Tergantung pada keikhlasan sang hamba, dan
takaran rezeki yang Allah berikan kepadanya. Bahkan
bilangan itu suatu saat bisa mencapai 700 kali lipat.
Allah Swt berfirman:
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)
orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah
adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan
tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia
kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha
Mengetahui." (QS. 2:261)
----------------------------------------------------
Di Cipete Jakarta Selatan. Di sebuah sekolah dasar di
sana, seorang pria penjual gorengan bernama Udin
(bukan nama asli) berjualan. Lonceng turun main,
kira-kira akan berbunyi sepuluh menit lagi. Ia tengah
memotong beberapa singkong untuk digoreng.
Singkong seperti kita tahu, berbentuk tabung dan
berkerucut pada ujungnya. Biasanya sebuah singkong
akan dipotong lima bagian. 4 bagian digoreng untuk
dijual, sementara bagian ujung atau pentilnya
disisihkan untuk dibuang. Hari itu, Udin menggoreng
kira-kira 5 buah singkong, dan pentil singkong yang
tersisa pun berjumlah 5 karenanya.
Lonceng istirahat berbunyi, para siswa pun berhamburan
ke luar kelas untuk jajan dan istirahat. Seorang anak
kurus sambil menggigit jari berdiri di ujung gerobak
Udin. Anak ini tidak membeli gorengan seperti siswa
lainnya, juga tidak berbicara sepatah katapun.
Naluri Udin berkata bahwa anak ini tidak punya uang
untuk jajan. Hati kecil menyuruhnya agar 5 pentil
singkong yang ada diberikan saja kepada anak itu. Maka
diambillah beberapa pentil itu. Ia masukkan ke dalam
adonan tepung, kemudian digorenglah. Setelah matang,
Udin menaruhnya di atas kertas lalu disodorkannya
kepada anak itu.
Si anak senang bukan main. Senyumnya mengembang. Udin
turut bahagia melihatnya. Belakangan, Udin tahu bahwa
anak tersebut adalah seorang yatim yang baru saja
kehilangan bapak.
Kejadian pagi itu terus berulang. Udin memberikan
beberapa pentil singkongnya kepada anak yatim itu.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun
hingga anak itu lulus dari Sekolah Dasar. Udin tidak
merasa berat, sebab apa yang ia berikan kepada anak
yatim itu, tiada lain adalah barang yang tiada
berharga bagi siapapun. Dalam pengalamannya berjualan,
tidak ada seorang pun yang mencari pentil singkong
untuk dibeli. Bahkan bila dijual sekalipun dalam
jumlah banyak, pastilah tidak akan laku.
Udin tak berkeberatan memberikan pentil singkongnya
kepada anak itu. Bahkan untuk setiap hari!
Allah Swt akan membalas kebaikan seorang hamba bila ia
membantu saudaranya bahkan hingga 700 kali lipat!
Lebih dari 30 tahun berselang setelah anak yatim itu
lulus. Saat itu, Udin masih mengerjakan rutinitasnya
setiap hari; yaitu berjualan gorengan di sekolah dasar
yang sama. Maka berhentilah sebuah mobil mewah nan
mengkilap tepat di depan gerobak Udin.
Seorang pemuda tampan turun dari mobil. Ia mengenakan
setelan dan dasi yang bermerk. Rambutnya di sisir rapi
dan mengkilat ditimpa sinar matahari.
Melihat calon pembeli dengan mobil bagus, Udin sigap
membuka pembicaraan, "Mau beli gorengan, Den...?!"
Pemuda itu tersenyum dan berkata, "Masa akang lupa
sama saya?" Pertanyaan itu membuat Udin berpikir
singkat, namun ia tidak menemukan jawaban. Udin lalu
bertanya polos, "Memangnya..., Aden ini siapa ya?"
Masih tersenyum, pemuda itu mengatakan, "Saya ini
adalah anak pentil singkong, Kang!" Mendengar itu,
Udin berucap tasbih. Rasa gembira terbit di hatinya
melihat kesuksesan anak ini. Anak pentil singkong yang
dulu kerap berdiri di pinggir gerobaknya.
"Masya Allah.... sudah sukses sekarang ya, Den?!"
Udin bertanya sekali lagi. "Alhamdulillah, Kang!"
jawab si Aden.
Udin lalu menggamit lengan si Aden, diajaknya masuk ke
balik gerobak. Udin menyorongkan sebuah kursi kecil
untuk duduk. Maka duduklah pemuda itu, sementara Udin
meneruskan pekerjaannya.... menggoreng singkong, tempe
dan lain-lain.
Sambil Udin bekerja, pembicaraan mengenai kenangan
lama terulang kembali. Keduanya merajut rasa syukur
kepada Allah Swt Yang telah melimpahkan anugerah tiada
terkira. Pembicaraan tersebut terus berlanjut hingga
berujung pada sebuah kalimat yang diucapkan sang
pemuda.
"Akang... saya ke sini mau berterima kasih!" kata si
pemuda. "Atas apa, Den?!" jawab Udin. "Berterima kasih
atas kebaikan kang Udin kepada saya. Dulu kalau gak
dikasih pentil singkong sama Akang, saya gak bakal
bisa belajar dengan tenang. Kalau belajar gak tenang,
saya gak bakal pintar. Kalau gak pintar, saya gak
bakal bisa lulus sekolah dan sukses seperti
sekarang.... saya ke sini mau berterima kasih ke kang
Udin!" kalimat yang baru diucapkan oleh pemuda begitu
tersusun dan membanggakan hati Udin. Namun Udin masih
berkelit sambil berujar, "Den... sudah gak usah
dipikirkan. Apa yang saya kasih ke Aden berupa pentil
singkong itu kan gak berharga! Ngapain pake terima
kasih segala. Lagian, kalo saya jual gak bakal ada
yang mau...!" Udin mencoba merendah dan menolak
pamrih.
Pemuda masih mengejar dengan satu pertanyaan lagi, dan
ini membuat Udin menjadi bergidik. "Akang..., saya dan
istri berniat haji tahun ini. Saya ingin Kang Udin dan
istri mau menemani kami. Mau kan, Kang?"
Gemuruh rasa terjadi di dada Udin. Tidak pernah
terbayang baginya akan ada seorang hamba Allah yang
mengajaknya untuk menunaikan rukun Islam kelima. Udin
pun mengiyakan, dan pemuda itu pun pergi meninggalkan
Udin.
Udin dan istrinya berangkat haji. Seluruh biaya dan
uang jajan keduanya ditanggung oleh si pemuda.
Barangkali lebih dari Rp 60 juta yang dibayarkan
olehnya. Udin dan istri lalu berangkat ke Baitullah,
menunaikan semua ritual dan kewajiban dalam ibadah
haji. Hingga ia dan istri kembali ke tanah air lagi
dengan selamat.
Sesampainya di tanah air, banyak kerabat, saudara dan
tetangga datang bersilaturahmi. Udin membagikan
oleh-oleh berupa air zamzam, kurma dan banyak lagi.
Banyak orang senang menerima hadiah tersebut. Mereka
pun banyak menanyakan pengalaman Udin dan istri selama
berhaji.
Udin menjawab semua pertanyaan orang yang datang
sebisanya. Hingga saat ada seseorang yang bertanya
tentang bagaimana caranya kang Udin dapat berhaji
bersama istri padahal usahanya hanya sekedar menjual
gorengan.
Rupanya... banyak yang belum tahu dengan cara apa Udin
berangkat haji. Dan memang, ia merahasiakan hal itu
selama ini. Udin pun menjawab seadanya, "Dulu..., saya
sedekah pentil singkong kepada seorang anak yatim, eh
gak taunya dengan sedekah itu saya dan istri berangkat
haji. Kalo tahu begini, coba dulu saya sedekah
singkong beneran sama tuh anak...!"
Udin mencoba berkelakar dengan jawabannya, dan hal itu
membuat hadirin tertawa terbahak mendengarnya. Dalam
hati, Udin bersyukur kepada Allah Swt Yang Sungguh
menepati janji kepada dirinya. Sungguh Allah Swt Maha
Kuasa untuk membalas amal seorang hamba, bahkan hingga
700 kali lipat atau lebih dari itu.
-AI-
